Masihkah Anda Mendukung Komodo di Ajang Yang Mengandung Unsur Penipuan?


Kalau ada unsur penipuan, kenapa harus didukung?

Ajang untuk mendukung Komodo di ajang New 7 Wonders of Nature memang bukan main-main. Apalagi ada orang besar yang mendukung di belakangnya. Sebut saja Bapak Jusuf Kalla yang aktif menyerukan dukungan SMS untuk Komodo.

Tentu saja ini membangkitkan rasa nasionalisme dan kebanggaan akan Indonesia yang butuh diakui di mata dunia.

Tak kalah meriah, empat operator yang bekerja sama dengan ajang dukungan Komodo ini menurunkan tarif yang benar-benar terjun bebas. Bahkan saking gencarnya, server operator pun sempat crash.

Tapi ada berita tak sedap mengenai dugaan bahwa ajang New 7 Wonders of Nature tersebut penuh unsur penipuan. Berita tak sedap itu mungkin lebih tepat disebut fakta yang selama ini tak kita ketahui. Bukan soal BBM yang menyatakan bahwa Komodo kalah oleh Kadal Air Raksasa Malaysia, tapi ada fakta lain yang lebih bisa dipercaya.

Ini tentu mengguncang siapa saja yang berharap masuknya Komodo sebagai salah satu finalis bisa berujung kemenangan. Benarkah SMS dukung komodo itu ada unsur penipuan? Sebelum dijawab, mari kita telaah kasus Komodo terlebih dahulu.

Apa yang menjadi bukti bahwa World of Nature dipenuhi unsur penipuan?

Awalnya, ratusan negara yang ingin ikut diharuskan membayar biaya pendaftaran sebesar $200 saja. Tapi ketika memasuki 28 finalis, panitia meminta biaya tak terduga yang jumlahnya mencapai jutaan dollar. Bahkan Maldives yang merupakan salah satu dari 27 pesaing Komodo, melalui web resminya menyatakan pengunduran diri karena tidak puas terhadap ketidakjelasan cara penilaian oleh penyelenggara.

Tak hanya itu, lewat situs resminya, UNESCO mengonfirmasi bahwa UNESCO tak ikut-ikutan dalam ajang New 7 Wonders of Nature. Artikel yang berjudul "UNESCO mengonfirmasi bahwa UNESCO tak terlibat dalam ajang tujuh keajaiban alam baru" itu berisi jawaban atas kebingungan soal keterkaitan UNESCO dengan New 7 Wonders of Nature.


Catatan lain, pada tahun 1986 silam UNESCO sudah menjadikan Taman Nasional Komodo sebagai situs warisan dunia. Cara-cara penilaian yang dilakukan New7Wonders juga berbeda dengan UNESCO.

Jika dilacak lebih teliti, New 7 Wonders Foundation tidak memiliki alamat resmi dan alamat pos. Diduga dana yang disalurkan pun tak jelas lari kemana dan untuk apa.

Apakah Content Provider di Indonesia ikut andil dalam SMS dukung Komodo yang juga berunsur penipuan?

Sepertinya masuk akal jika ada yang berpikir demikian. Sebelum tarif SMS dukung Komodo jadi Rp 1, tarif SMS adalah sebesar Rp 1.000. Saat tarif SMS yang dikirimkan ke nomor 9818 masih Rp 1.000 itu dana yang masuk juga dipertanyakan. Benarkah tarif yang terjun bebas itu tulus mendukung Komodo?

Selain alasan tersebut, seperti saya kutip dari Yahoo! bahwa sebenarnya Komodo sudah diakui di mata dunia sebagai salah satu keajaiban alam.

Jadi bagaimana dong?

Kembali ke pribadi masing-masing. Setiap orang punya alasan untuk mendukung atau tidak mendukung Komodo. Artikel ini sengaja saya tulis karena saya juga merasakan adanya unsur penipuan di ajang New 7 Wonders of Nature.

Rasanya aneh jika kita harus mengikuti ajang yang cara penjuriannya tak jelas dan masih harus membayar biaya dalam jumlah besar jika menang. Biaya yang begitu besar itu bukankah sebaiknya dialokasikan untuk kampanye wisata Indonesia yang lebih terencana dan jelas seperti misal: Truly Asia (Malaysia) dan Amazing Thailand (Thailand)?

Yang jadi pertanyaan besar selanjutnya, apakah yang ada di pikiran figur publik yang masih saja ngotot mengkampanyekan dukungan terhadap Komodo, padahal fakta-fakta 'penipuan' sudah jelas. Akankah nasionalisme membutakan fakta-fakta ini?


Source: 
Olá! Se você ainda não assinou, assine nosso RSS feed e receba nossas atualizações por email, ou siga nos no Twitter.
Nome: Email:

0 komentar:

Poskan Komentar